Cinta Kita

by | Jan 27, 2018 | Senandika | 0 comments

Cinta memang selalu sulit untuk di definisikan. Cinta tak selalu tentang suka kepada pasangan, tetapi cinta juga bisa berbentuk ekspresi suka terhadap benda. Cinta memang menggairahkan untuk dibahas, tapi selalu berujung ke kebuntuan yg tak berakhir, karena memang cinta bukan hal baku yg bisa kita kekang.

Hanya penutur yang mengetahui tafsirnya. Benar sekali bapak Nusron Wahid, jika di masukkan ke makna cinta. Masing-masing kita memiliki tafsiran lain, makna yang berbeda.

Cinta, ah cinta. Sulit namun candu. Banyak yg mencari namun terkadang menyakitkan. Absurd sih tapi orang tidak berhenti untuk membahasnya. Membuat semangat tapi juga bisa menjatuhkan. Aduh cinta.

Izinkan saya menafsirkan makna “cinta”.

Cinta bagi saya adalah apa yg selalu terbersit dalam hati, terlintas dalam benak, apa yang selalu di ingat dalam hati, apa yang selalu disebut oleh mulut, apa yang selalu di ucap apakah itu rahasia atau terang-terangan, apa yang membuat dia bergerak, apa yang membuat dia tergerak, apa yang membuat dia melakukan sesuatu. Jadi, cinta menurut saya adalah sesuatu yg selalu terucap dalam hati, selalu teringat dalam lidah dan dia yang menjadi dasar setiap ia bergerak.

Kok bisa seperti itu? Biasanya yg terlihat tidak akan jauh dari apa yg terlintas di hatinya, sama seperti pepatah buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Apa yg ada di hati kita nantinya akan terlihat, langsung atau tersirat. Bersitan hati akan memunculkan lintasan pikiran ke akal dan akan mengejawantah keluar, apakah dalam bentuk ucapan, perbuatan, keputusan dan lain sebagainya.

Apa yg ada didalam berpengaruh keluar kan?, tentu yg didalam itu hasil dari yg kita masukkan sebelumnya. Apa yg kita lihat, apa yg kita dengar, apa yg kita baca, kita dekat dengan siapa, kita bergaul dengan siapa, kita kuliah apa. Semua berpengaruh terhadap kita nanti, bahkan apa yg kita makan pun berpengaruh sedikit banyaknya. Contoh kecil, penggemar music rock dengan pop jika keduanya di suruh memilih lagu, kemungkinan pilihan pasti berbeda.

Saran sih. Kita harus hati-hati dengan apa yg ingin kita masukkan kedalam diri. Karena ya tadi itu, sangat berpengaruh nanti dengan apa yg kita keluarkan. Setidaknya kita tahu dan bisa mensortir apa yg akan masuk.

Kita itu mahluk spesial, mahluk yg memiliki will, mahluk yg diberikan kemampuan untuk memilih. Kelebihan inilah yg tidak dipunyai mahluk lain, binatang, tumbuhan, bahkan malaikat yg paling suci pun tidak se mulia manusia yg memiliki kemerdekaan memilih. Kemerdekaan itu bermula dari hati yg dapat memilih, memilih jalan dengan keinginan masing-masing.

Hati kita hati yg merdeka sejak lahir. Jiwa kita jiwa yg bebas sejak kecil. Allah yg memberi itu, jadi bertanggung jawablah terhadap kemerdekaan yg Allah berikan. Pilah apa yg akan kita pupuk dalam hati. Berpikirlah sebelum memutuskan. Ingat tanggung jawab terhadap apa yg telah Allah beri, kebebasan dan kemerdekaan.

Jiwa yg kita miliki ini jiwa yg bebas. Hati yg kita miliki ini hati yg merdeka. Jadi, kita bebas memupuk apapun dalam hati kita. Kita bebas menanam apa saja. Kita punya hak apa yg akan tumbuh dalam hati, ingat kita punya itu.

Sebaliknya. Kita punya hak untuk mengusir sesuatu yg tidak kita inginkan dalam hati. Kita bisa menghilangkan rasa yg menggangu namun hinggap di ujung hati. Dengan sendirinya mungkin rasa itu tumbuh, namun pilihan untuk memupuk rasa itu ada ditangan kita. Jadi jika tumbuh rasa tapi kita tidak menghendakinya, so matikan, jangan di siram jangan di beri pupuk biarkan sampai mati.

bijak lah terhadap apa yg ingin kita tanam dan ingin kita hilangkan dalam hati.

Latih lah hati dengan sesuatu yg ingin kita miliki. Usahakan latih hati ke arah yg baik, latih hati dengan hal yg baik. Latih hati dari hal yg kecil, agar terbiasa dengan kebaikan yg besar. Mungkin menolong orang sebesar 1 juta akan terasa berat bagi hati yg tidak terlatih, namun bagi yg sudah melatihnya apakah masih sulit?. Latih hati, terus dilatih. Latih sampai peka, latih, latih, dan latih.

Tumbuhkan dalam hati dengan yg baik, tanam, pupuk, rawat. Latih hati agar dia terbiasa dengan hal yg baik, sesuatu bisa karena telah biasa.