Pelayan Laki-laki

by | Feb 18, 2018 | Saujana Mata | 0 comments

Waktu itu di Sakola dan hari sangat terik, maklum jam 1 siang. Matahari lagi panas-panasnya. Setelah selesai memilih baju bagus tapi murah di Sakola kami langsung bergegas ke parkiran. Di atas motor sejenak sebelum beranjak kami berdiskusi.

“panas eh” saya nyeletuk

“pengen yang es-es, bikin seger” Riga bilang “es Oyen enak keknya”

“dimana?” kata Alfan

“aku es Oyen aja ga tau, kalian lebih paham” saya balas

“wes, jalan dulu nanti di jalan nyambi nyari” Zia coba memberi solusi

tanpa fafifu kami langsung jalan menuju UGM, pulang. Alhamdulillah di tengah perjalanan pulang kami menemukan stand es Oyen, lalu kami mampir.

Mau makan. Biasa, mikir dulu.

“mba biasa tiga ya” Alfan sambil mengangkat tangan dengan tiga jari terbuka

“istimewa deh mba” tanpa ragu saya memilih menu istimewa, gara-gara ada topping Duren

Angin sepoi-sepoi di pinggir jalan membuat kami makan sangat tenang, sangat. Makan es di temenin angin itu rasanya seger di dalem adem diluar haha. Lalu ada yang nyeletuk, saya lupa siapa.

“nikah enak ya ada yang nyuciin, masakin, nemenin…” suaranya kalah sama kendaraan di jalan, jadi saya tidak sempat dengar sampai selesai.

Saya berpikir, se simpel itu kah cara berpikir kita terhadap pernikahan? Semudah itu kah anggapan kita dengan membangun keluarga? Kalo emang begitu coba kita liat bareng.

Kita buat cerita sederhana dan cerita yang paling umum terjadi di masyarakat kita. Anggap pasangan bahagia menikah di bulan Januari, mereka mengadakan resepsi dengan ceria lalu mereka berdua menjalani bulan madu di Jogja misal. Berjalannya waktu, di minggu ke lima pernikahan berita bahagia campur haru pun merebak di tengah keluarga, si perempuan hamil.

Apakah semua berjalan normal seperti biasa? Tentu tidak, baru satu bulan bahagia sang suami harus sudah pusing dengan berbagai hal kehamilan. Bukan menyangkal kalau mengandung dan mendapatkan buah hati itu membahagiakan tapi hal-hal yang banyak laki-laki ekspektasikan seperti baju di cuciin makan di masakin dll otomatis terhenti di bulan kedua, hanya bulan pertama saja si laki-laki mendapatkan apa yang dia ekspektasikan.

Wanita sangat rentan dan lemah di bulan pertama sampai bulan ketiga, tiga bulan ini adalah masa-masa yang sangat krusial bagi janin dan tentu ibunya. Masa ini yang di sebut Allah wahnan ‘ala wahnin selemah-lemahnya lemah, si calon ibu harus sangat hati-hati agar si janin tetap tumbuh dan tidak lemah. Si calon ibu tidak boleh capai, bahkan naik motor saja dihindari agar si janin tidak keguguran.

Lalu tugas si laki-laki tadi apa? Di fase ini ya otomatis semua pekerjaan rumah tangga harus di ambil alih si laki-laki. Menyuci laki-laki, memasak laki-laki, pun di tambah dengan ngidam ini ngidam itu dari istri. Jangan lupa juga tugas utama mencari nafkah di luar rumah juga harus tetap jalan, waw. Belum lagi fase-fase selanjutnya, pasca melahirkan, menyusui, dan seterusnya.

Masih berpikir menikah itu enak? makan di masakin, tidur di temenin, blablabla. wkwk.
Kita harus merubah mindset kita sebagai laki-laki yang menjadi boss dan selalu minta di layani ketika datang ke rumah, harus. Jangan jadikan dalil ar rijalu qawwamuna ‘ala nisa membuat wanita adalah pelayan laki-laki, makna qawwam tidak berhubungan sama sekali dengan otoritas bahkan maknanya adalah kita sebagai pelayan.

Seharusnya kita laki-laki yang takut dengan makna dalil diatas, makna qawwam berarti kita adalah pelindung mereka, menyediakan apa yang mereka butuhkan, menegakkan keluarga agar tetap berjalan stabil, qawwam juga bermakna konsisten untuk tidak takut karena kalo kita takut kemana istri akan bersandar? Juga konsisten dalam hal ke adil an. Qawwam juga bermakna kita laki-laki harus peka terhadap tujuan keluarga, menjadi guru si perempuan, menjadi mentornya selalu memberi saran.

Menjadi qawwam atas perempuan memang sudah fitrah laki-laki, tapi menjadi qawwam tidak semata-mata mudah. Istri ingin mempelajari agama misal, jika kita memfasilitasinya maka kita qawwam begitu sebaliknya. Istri punya cita-cita dan tujuan untuk S2, sang suami harus membantunya mencapai tujuan kalo tidak maka suami tidak qawwam.

Logika menjadi laki-laki sekarang terbalik-balik hampir sama dengan logika menjadi pemimpin hari ini. Banyak yang ingin menjadi pemimpin, karena mindsetnya mereka mengira bahwa menjadi pemimpin itu mereka punya hak lebih untuk dilayani padahal bukan, merekalah yang harusnya melayani rakyat.

Mindset dilayani bagi laki-laki harus segera dialihkan maknanya menjadi melayani, karena sejatinya kita adalah pelayan bagi wanita kita. Itulah qawwam. Semakin tinggi harapan kita akan semakin kecewa, dan itu buruk bagi kita yang ingin membangun keluarga. Semakin kita berekspektasi dengan pelayanan kita akan semakin kecewa. Maka kita laki-laki harus fokus pada melayani bukan dilayani, menjadi subjek.