Dewasanya Yogya

by | Feb 24, 2018 | Saujana Mata |

Jogjakarta, Jogjakarta. Sampai sekarang saya masih belum nemu titik yang membuat saya nyesel memilih Jogja sebagai destinasi hidup setelah sekolah menengah. Keputusan ini diambil ketika kami menginjak kelas 2 SMA saya bersama Fakhrul dan Hafizh juga dengan saran beberapa senior yang sudah kuliah di Jogja dan beberapa teman lain, bulat kami putuskan kami akan kuliah di Jogja. Alhamduillah kami semua tembus UGM Hafizh di pariwisata (kalo di jurusannya dia biasa dipanggil Dzakwan), Fakhrul di Fakultas Hukum, dan saya di Sekolah Vokasi B.Inggris.

Saya bukan ingin membahas perjalanan cerita kami, bagi kalian pasti bukan hal yang penting.

Saya ingin membahas Jogja. Ah, Jogja. Never ending Asia tagline nya.

Baru-baru ini saya membaca buku dengan judul “50 Things Every Young Gentlemen Should Know” karya John Bridges dan Bryan Curtis lalu saya melihat tiga bab pembahasan awal, apakah kalian ngeh apa yang dibahas di awal bab-bab buku tersebut? Ini saya sebutkan, bab pertama “Saying ‘please’” terus “saying ‘thank you’” dan yang ketiga “saying ‘excuse me’”. Di tiga bab ini saya lihat hanya sepele yaitu “say”. Simpel. Tapi ternyata ini menjadi bab-bab pertama jika kamu ingin menjadi laki-laki yang gentle.

Saya langsung teringat Jogja, setelah saya hampir 3 tahun di Jogja 3 budaya ini adalah budaya yang saya pelajari dan dapat selama tinggal di Jogja. Luar biasa memang Jogja. Secara cepat setelah membaca buku ini saya simpulkan bahwa Jogja memang sudah dewasa, masyarakatnya, budayanya, desanya. Ya saya menyimpulkan dengan cepat, karena di tulisan ini saya hanya membahas Jogja dari sisi “say”.

Saya teringat cerita abang saya waktu beliau pertama kali ke Jogja, abang sungguh sangat terkesan dengan Jogja dan membuat saya juga sangat penasaran dengan Jogja dan ingin cepat-cepat mengunjungi Jogja. Kira-kira waktu itu saya masih di kelas 2 atau 3 SMP. Dia bilang, Jogja memang beda, secara masyarakat mereka memang siap jika menjadi destinasi wisata, mereka siap untuk ramah, mereka siap untuk terbuka.

Dalam hal bertanya aja misalnya, kalo bertanya arah jalan memang benar-benar di tunjukkan bukan di sesatkan haha karena saya pernah di suatu daerah kalo bertanya jalan ya disesatkan walaupun ya itu bukan kasus umum tapi kalo umumnya masyarakat Jogja akan welcome jika ditanyai sesuatu.

Dan cerita yang abang saya sampaikan terbukti dengan saya tinggal di Jogja.

Budaya yang simpel, perkara yang remeh tapi untuk membiasakan hal yang remeh itu membutuhkan waktu yang sangat lama jangankan membiasakan nya di komunitas sebesar masyarakat membiasakannya di dalam personal saja sangat susah, seperti kata orang “pindah ma gampang, tapi konsisten itu yang sulit”. Pasti banyak dinamika dan terpaan yang dialami masyarakat Jogja sehingga masyarakatnya bisa se dewasa ini, mulai dari kerajaan Mataram kuno, Mataram Islam sampai kesultanan sekarang.
Sangat mungkin masyarakat kalian juga punya ciri yang saya sebutkan diatas. Saya bukan melihat ini sebagai “hanya” keistimewaan Jogja walau memang masyarakatnya istimewa, tapi mungkin masyarakat lain mempunyai ciri yang saya sebutkan diatas. Kebetulan saja saya di Jogja dan saya menemukan karakter masyarakatnya seperti yang di sebutkan dalam buku yang saya baca.

Masyarakat daerah kamu mempunyai karakter yang sama? Bisa jadi, hal penting menurut saya adalah hal yang remeh bisa merubah yang kecil menjadi besar. Hal simpel yang tidak dilihat orang bisa jadi pemantik api dan dapat membakar.

Jogja, ah Jogja. Merindumu tak akan habis-habis.