Radiohead dan Milan Kundera

by | Apr 22, 2018 | Gita & Makna | 0 comments

Jadi ceritanya, saya dan Uni Octa buat tantangan (pembukaan ini sama persis sama pembukaan yang ada di blog Uni) bodo amat sih, haha …), tantangannya dalam bentuk tulisan dalam blog. Nah, setiap minggu kita punya jatah satu tantangan. Harus nulis sesuai tema yang penantang kasih. Kali ini tantangan dipegang sama Uni. Uni kasih tema ngemaknain lagunya Radiohead, Present Tense.

Pas saya dikasih tema tantangan ini, saya pikir, “Kenapa enggak?” Lagian salah satu kolom blog saya ada ‘Gita & Makna’ yang artinya ya … lagu dan makna. Enggak pernah diisi itu kolom, jadi sekalian aja buat ngisi blog. Sambil menyelam minum susu.

Jujur aja, saya enggak punya pengalaman pribadi atau pengalaman yang membekas sama lagu ini. Enggak pernah kenal lama, saya baru tahu sekitar 6 bulan yang lalu. Enggak juga punya waktu-waktu intens buat dengerin lagu ini. Jadi, ya … bingung, sih, enggak. Tapi saya yakin yang saya bahas di sini akan kasar dan enggak selembut yang Uni buat di blognya. Kan, kan, kalau pengen bagus menulis sesuatu kita mesti tahu secara dalam bahkan kita mesti ada di dalamnya. Enggak bisa kita orang luar lalu menuliskan seindah orang yang ada di dalam.

Oke! Uni menulis tentang pengalaman dia dance sampe lost pas dia menulis atau ngelakuin yang dia suka.

Saya yakin apa yang ditulis Uni itu pengalaman Uni tentang lagu ini. Uni giting lah, apa lah. Oke! Uni menulis tentang pengalaman dia dance sampe lost pas dia menulis atau ngelakuin yang dia suka.

Jadi, saya mengaku kalah dan enggak ingin menang dalam tantangan kali ini. Haha. Walau tantangan ini enggak ada pemenangnya dan bukan kompetisi, tapi Uni pasti udah ketawa ngekek aja kalau tulisan ini karena enggak sebaik yang Uni buat. Uni pasti bilang, “Your stupidity annoys me.” Haha.

Ketika saya mendengar pertama kali lagu ini, yang terlintas di benak saya adalah waktu saya membaca The Joke-nya Milan Kundera. Tokoh utama dalam buku ini, menggiring hidupnya di tengah keputusasaan yang enggak berujung karena memang dia enggak mempunyai masa depan yang jelas. Sebagai penambang di akhir hidupnya dan sebagian waktu sebelumnya, dia keluar-masuk penjara. Ini semua dia abaikan—dengan kemauan sendiri, dia memilih ini—dengan mencintai seorang gadis yang sangat sederhana, enggak neko-neko.

Simpel, dia menghilangkan semua yang ada sekarang dan masa lalu dengan mencintai seorang gadis. Buat saya inilah lagu Present Tense. Orang yang berjuang buat present tense-nya, buat masa sekarang. Buku The Joke dan lagu Present Tense bagi saya sama-sama ingin menunjukkan itu. Seseorang yang berusaha menjadi ada di present-nya.

This dance
This dance
It’s like a weapon
It’s like a weapon
Of self defense
Self defense
Against the present
Against the present
Present tense

Tokoh utama di buku The Joke melewati masa-masa terburuk dalam hidupnya; enggak diterima oleh universitas yang dia pengen, ditolak partai komunis (latar kondisi di situ partai komunis adalah partai yang berkuasa) sehingga dia tinggal di pangkalan militer, dan bekerja sebagai penambang untuk hukuman karena ditolak oleh partai komunis. Dia sangat menderita—menderita fisik. Tapi dalam cerita itu fisik bukan sebagai penderitaan yang dalam. Penderitaan mental yang sangat membuat dia ingin pergi dari dunia.

Namun dia jatuh. Dia jatuh cinta pada seorang gadis. Karena jatuhnya itu dia enggak peduli lagi dengan keadaan masa lalu yang dia hadapi begitu keras, bahkan dia tidak lagi sadar sedangada sekarang. Gadis itu membuat dia lupa dengan waktu dulu dan sekarang yang membosankan, seolah dia yang paling berharga dari semua yang dia alami selama hidup. Dia seperti menari di tempat sunyi dan senyap tanpa ada musik di sekitar.

Dia seperti terus menari walau air matanya jatuh karena keadaan present yang luar biasa memuakkan. Terus menari karena gadis itu sebagai senjatanya. Terus menari karena gadis itu tameng dia. Gadis itu adalah temannya melawan present’.

I won’t get heavy
Don’t get heavy
Keep it light and
Keep it moving
I am doing
No harm
As my world
Comes crashing down
I’m dancing
Freaking out

Tokoh utama merasa seperti enggak mempunyai beban lagi setelah bertemu dengan gadis ini. Dia tidak lagi merasa menanggung apa yang dia pikirkan sekarang dan masa lalu. Menurut saya bukan di sini intinya. Bukan ada di merasa’ tapi di ‘won’t’—enggak akan. Tokoh  di novel itu bukan hanya merasa kalau ternyata, dia sendiri yang memutuskan untuk bebas dari itu semua. Keinginannya sendiri yang membuat semua ini hilang dan membuat hari-hari dalam pikirannya terasa ringan. Bukan si gadis ini yang membuat dia kehilangan beban yang dia punya dalam pikirannya.

Di fase ini, dia percaya kalau dia enggak melakukan hal yang menyakiti orang. Dulu dia ikut sakit karena telah menyakiti orang. Dia juga percaya kalau dia tidak bisa mencintai—atau lebih tepatnya dia yakin kalau tidak ada waktu untuk hal-hal tersebut. Tapi, hey, dia merasakannya.

Tapi dia takut, karena dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

Dia memilih untuk.…

Deaf, dumb, and blind

In you I’m lost

In you I’m lost

Setelah itu.…

I won’t turn around when the penny drops

I won’t stop now

I won’t slack off

Or all this love

Will be in vain

Si tokoh akhirnya tidak berhenti dan membiarkan ini sia-sia. Dulu dia lelah karena hidup dengan wajah-wajah dan standar-standar orang lain. Ini adalah momen dia untuk menjadi dirinya dengan standarnya sendiri. Dengan bantuan cinta gadis itu dan keinginan dia, dia tidak akan berhenti atau cinta ini akan sia-sia.

Setelah berpikir sambil menulis ini. Saya baru tahu kenapa saya langsung ingat buku The Joke ketika mendengar Present Tense pertama kali. Karena saya berada di masa itu, masa di mana mencari cara agar bisa ‘ada’ di ‘present’, dan saya juga di kelilingi oleh lingkungan yang mendukung untuk berada di masa seperti itu.

Banyak sebenarnya buku yang berhubungan dengan lagu ini dan tema ‘mencari diri’, seperti Men’s Search For Meaning-nya Viktor E. Frankl. Dengan latar tempat dan latar cerita yang hampir sama. Tapi saya langsung teringat The Joke dan lebih memilih ini, ya … pada akhirnya hidup ini cuma senda gurau belaka. Hidup itu joke, candaan. Seperti yang dialami tokoh utama buku ini, dia mendapat cinta di tengah pertikaian batin, joke-kan?

Untuk membaca tulisan Uni Octa dari Tantangan Blog ini, kalian bisa klik senyuman di samping. Terima kasih.