Kantin; Cerita dan Cabe

by | May 6, 2018 | Saujana Mata | 0 comments

Mie Instan dengan Telur di Pagi Menjelang Siang Itu
Di antara jeda kelas pagi ke kelas berikutnya di hari Kamis dua pekan lalu, saya datang ke Kantin Bonbin untuk membeli—ini tidak sehat dan jangan ditiru, tapi saya tidak kuasa untuk menahan godaannya—mie instan dengan telur. Pagi itu saya belum sarapan dan rasanya kandungan MSG di dalam mie instan bisa jadi penambah semangat. Ah, tapi ini bisa jadi hanya pemikiran tidak berdasar mahasiswa semester empat yang sedapat mungkin, nyaris setiap saat, selalu menghemat uang makan.

Kantin ramai seperti biasanya. Saya memesan mie instan dengan telur di Kantin Bonbin dan ketika menunggu, ibu penjualnya bicara tentang banyaknya piring dan gelas miliknya yang hilang karena pembeli yang datang ke kantin ini malah memilih untuk duduk dan makan di meja dalam wilayah kantin yang satunya lagi, Pujale (Pusat Jajanan Lembah). Saya pun akan melakukan itu karena tempat duduk di sana lebih enak. Tapi saya mengatakan—atau, bisa jadi lebih tepatnya; menjanjikan—untuk membawa piring yang saya pakai dan mengembalikannya ke kantin ini setelah saya makan. Setidaknya itu penyelesaian yang menguntungkan kedua belah pihak, kan? Saya tetap bisa makan dari kantin ini, yang makanannya memang lebih enak dan murah, tapi tetap bisa duduk di tempat yang lebih nyaman. (Pernah bertemu dengan hipokrit selain saya sebelumnya, kan?)

Saya membayar sebanyak enam ribu rupiah lalu menunggu sambil memperhatikan kalau ibu penjual memotong satu buah cabe untuk saya. “Satu buah?” pikir saya, “Apa-apaan itu satu buah?” Lidah saya ini baru bisa dipuaskan kalau makanan yang saya makan itu pedas sekali dan iya, saya memang menganggap cabe sebagai salah satu alat pemuas.

“Bisa tambah cabenya enggak, Bu?” tanya saya.

Ibu penjual itu melirik ke arah saya sebentar, saya menangkap ada yang dia tahan untuk katakan pada saya sebelum akhirnya dia menambahkan satu buah cabe lagi. Saya tahu itu raut tidak senang bercampur dengan jengah—mungkin. Tapi tidak saya tanyakan. Bisa jadi itu hanya reaksi dari saya yang terlalu banyak maunya.

Ketika mie instan itu jadi, saya pun membawanya ke tempat duduk di Pujale. Setelah selesai makan, saya mengembalikannya ke Kantin Bonbin, seperti janji saya ketika memesan tadi.

Dua kantin ini lebih dari sekadar tempat makan, duduk, dan beristirahat. Ada cerita di baliknya yang mungkin tidak semua orang tahu. Sama seperti ketika ada dua gajah di satu kandang besar, tentu setelah itu kita bicara tentang kekuasaan dan pembagian wilayahnya. Mungkin juga dengan intrik politiknya.

Lokasi, Lokasi, Lokasi
Kantin yang biasa disebut Bonbin ini salah satu destinasi makan Mahasiswa klaster sosial humaniora. Sejak saya belajar di UGM rasanya tidak ada hari untuk tidak ke Kantin Bonbin yang berdiri jauh sebelum saya belajar di UGM, terletak persis di sebelah Fakultas Ilmu Budaya. Tidak ada yang tidak mengenali kantin ini. Semua mahasiswa klaster sosial humaniora merasa memiliki kantin ini; merasa dekat perut, pikir, dan emosinya.

Di sini tempat mahasiswa mengisi perut, menghilangkan penat, dan bertukar pikiran tanpa harus terganggu dengan kantong dan dosen, karena memang dosen sendiri berubah menjadi jelata ketika makan di Kantin Bonbin—walaupun para mahasiswi tetap jelita dalam kejelataan di sana.

Dari segi struktur bangunan, Bonbin tidak spesial. Terdiri dari tiga baris, masing-masing baris diisi empat stan makanan, barisan ini dipisah dengan dua jalan untuk mahasiswa lalu lalang. Di depan Kantin Bonbin tertulis Humaniora Mandiri ditempel di plang yang terbuat dari tumpukan batako-batako kecil seukuran pinggang, ditambah dengan logo Bank Mandiri, mungkin bank itu sebagai sponsor—entah, saya tidak tahu.

Sebelum berada di samping FIB, kantin humaniora pernah berlokasi di tempat lain, tempat yang sekarang ini adalah tempat relokasi ke dua. Saya tidak tahu di mana tempat yang pertama dari Kantin Bonbin. Lokasi yang sekarang memang strategis, selain memang nyaman. Terletak di tengah klaster, bersisiran dengan fakultas Filsafat, Psikologi, dan Ekonomi dan Bisnis.

Selain Bonbin, banyak lagi kantin yang terletak di klaster Sosial Humaniora, seperti, Kansas (Kantin Sastra), Kantin Ujung Roller Coaster (kantin di atas Pertamina Tower), Kantin Fisipol, Fakultas Hukum juga punya kantin tapi saya sampai sekarang belum pernah ke sana. Pujale sendiri ada di sebelah timur Kantin Bonbin.

Pujale bukan kantin yang dipilih oleh kebanyakan mahasiswa—saya salah satunya. Selain harganya yang lebih mahal, ada sesuatu yang hilang dari betapa nyamannya kantin itu. Bisa jadi ini hanya perasaan saya yang terlalu berharap bahwa masa ketika saya kuliah ini, seharusnya, menjadi masa penuh perjuangan dan penghematan. Kalau ada orang yang baru pertama kali datang ke FIB dan ingin makan sesuatu, bisa jadi, mereka akan lebih memilih Pujale yang lebih indah dilihat mata. Bagaimanapun, estetik kantin menjadi penarik pertama—seperti perempuan cantik yang saya lihat sekali lalu. Berikutnya, baru kita bicara tentang kepribadian dan enak atau tidaknya dia diajak bicara. Ah, belum lagi masalah intelejensia. Memilih untuk makan di kantin yang mana, juga bisa diumpamakan seperti itu.

Intrik Itu pun Terjadi
Pertengahan tahun 2015 Kantin Bonbin akan direlokasi untuk ke dua kalinya, dari awalnya berada di samping FIB ke persis di selatan Pujale. Relokasi itu dilaksanakan atas perintah rektor waktu itu, Bunda Dwikorita, rektor perempuan pertama UGM.

Sontak mahasiwa klaster sosial humaniora bersama para pedagang terkejut dan tentu tidak menerima keputusan ini. Mediasi pun dilakukan. Kajian-kajian tentang Kantin Bonbin diadakan. Bayangkan betapa pentingnya nilai kantin untuk kehidupan kampus. Bicara kantin itu bicara makan—bicara tentang bagian paling bawah dari Piramida Maslow yang terkenal itu. Kajian dan diskusi itu pun menjadi penting. Kita bicara tentang bagian paling penting yang tidak bisa diganggu-gugat sepertinya; perut—dan juga kenyamanan ketika mengisi perut.

Semakin kaget bahwa Kantin Bonbin direlokasi karena adanya pembangunan kantin BI (Bank Indonesia) yang prosesnya mandek sampai sekarang, bahkan kantin ini sudah diresmikan oleh Presiden BI beberapa waktu lalu, namun belum beroperasi sampai sekarang. Keputusan ini berbuah amarah mahasiswa.

Keputusan Bunda dianggap tidak berpihak kepada rakyat. “Katanya Kampus Kerakyatan, rakyat yang mana?” Amarah memuncak dan berujung dengan aksi pada Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei. Bukan hanya Mahasiswa klaster soshum tetapi mahasiswa seluruh klaster hadir memenuhi gedung pusat UGM, Komplek Balairung.

Pagi itu mahasiswa menduduki Gedung Pusat seketika. Mahasiswa penuh mengerumuni gedung, tidak di lantai satu atau lantai dua. Banner-banner protes pun dipasang, sempat mahasiswa dihalangi untuk memasang banner oleh keamanan kampus tapi mereka tidak berkutik dengan banyaknya mahasiswa.

Demo itu demo yang paling besar dari banyak demo dan aksi yang saya ikuti. Aksi yang didasari kebutuhan mendasar mahasiswa, otak dan perut, aksi yang dilakukan karena yang dihilangkan adalah sesuatu yang sangat berefek dalam kehidupan sehari-hari.

Tarik-ulur dalam negosiasi antara rektor yang berada langsung di tempat bersama mahasiswa sungguh alot—lebih alot dibanding ketika saya melihat pembeli di Tenabang berusaha menawar dengan harga terendah yang bisa terpikir oleh mereka setelah menurunkan nyaris setengah dari semua barang yang dipajang. Sejak pagi sampai siang, negosiasi buntu. Di tengah negosiasi antara Bunda dan utusan mahasiswa, massa aksi dihibur dengan pertunjukan teater, orasi, dan curhatan pedagang sekaligus mahasiswa soal Kantin Bonbin.

Demonstrasi di kampus ini tentu sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama—perlu makan, istirahat dan sholat—maka waktu untuk kebutuhan tersebut diberi kepada massa aksi ketika masuk waktu zuhur sebelum akhirnya dilanjutkan kembali. Di sini yang membuat saya terkagum. Massa tidak berkurang setelah setelahnya, malah semakin bertambah. Media sosial juga dipakai untuk menjaring teman-teman mahasiswa yang masih ada di kos masing-masing.

Aksi tidak juga kunjung berakhir sampai malam hari karena memang alotnya negosiasi. Kesepakatan yang akhirnya dicapai malam itu adalah; memindahkan Bonbin hanya dalam sepuluh bulan, lalu kembali ke tempat semula. Kesepakatan ini ditandatangani oleh utusan mahasiswa dan Bunda. Lalu, semua pun menjadi aman kembali—urusan perut dan kantong, terutama, pada waktu itu dan kesepakatan tersebut tidak pernah teringat lagi.

Ternyata Saya Berhutang—dan Saya Membayar
Keesokan harinya, saya kembali ke Kantin Bonbin dan memesan—lagi-lagi—mie instan dengan telur. Tapi ketika saya menunggu, saya melihat ada seorang mahasiswa yang juga memesan menu yang sama. Dia juga memesan dengan dua cabe—persis seperti yang saya inginkan! Tapi saya melihat kalau dia menyerahkan uang sebanyak tujuh ribu rupiah. Ini aneh.

“Memangnya harga intel di sini berapa, Bu?” tanya saya.

“Kalau pakai satu cabe, enam ribu. Dua cabe, tujuh ribu,” jawab ibu itu disertai dengan penjelasan betapa mahalnya harga cabe sekarang ini.

Saya tidak mengerti semahal apa harga cabe yang dimaksudkan ibu itu. Kalau harga cabe mahal, itu saya tahu. Tapi melihat ada pembedaan antara harga mie instan dengan satu dan dua cabe yang selisihnya sampai seribu rupiah, saya pikir, mahal yang dimaksudkan oleh ibu ini tidak main-main.

Saya mengeluarkan uang seribu rupiah dan menyerahkan padanya. Saya paham dengan raut wajah tidak terlalu menyenangkan yang dia tunjukkan pada saya kemarin. Bisa jadi dia ingin memberitahukan kalau saya seharusnya tidak meminta tambahan cabe satu buah lagi kalau saya hanya membayar sebanyak enam ribu rupiah. Tapi, saat itu, saya benar tidak tahu—dan ketidaktahuan saya itu sepertinya lebih mendekati ketidak-mau-tahuan.

“Ini kurang yang kemarin, Bu.”

Saya menyerahkan seribu rupiah itu padanya. Saya juga rakyat di kampus ini. Bagaimana pun, kantin ini yang dulu ikut saya perjuangkan dan saya pernah jadi bagian dari sejarahnya.

Feature ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Menulis Kreatif yang ada di Prodi Sastra Arab di kampus saya

Untuk foto yang saya muat di atas, saya ambil di blog ini