Taman Bermain Yang Menyenangkan

by | Jul 21, 2018 | Saujana Mata | 0 comments

We live in cities you’ll never see onscreen
Not very pretty, but we sure know how to run things
Livin’ in ruins of a palace within my dreams
And you know we’re on each other’s team

Lorde

Panas tengah hari jadi enggak terasa karena saya berada di ruang berpendingin. Waktu saya masuk ruang itu, dosen tanpa basa-basi untuk menunggu saya duduk dan memberitahu saya kalau berkas yang saya kumpulkan belum lengkap dan mesti dilengkapi lagi.

Lalu saya dipersilahkan duduk oleh dosen, saya duduk di kursi sebelah kanan—kalau enggak salah—karena kursi sebelah kiri sudah diduduki perempuan. Saya tidak kenal dengan perempuan ini tapi wajahnya familiar, saya tahu pasti dia satu fakultas dengan saya. Setelah duduk, saya nengok ke dia lalu senyum kecil buat mencairkan suasana.

“Ngapain, Mbak?” pertanyaan saya menyambut senyum balasan darinya.

“Ini mau finalisasi proposal dana BSO (Badan Semi Otonom, sebutan unit kegiatan mahasiswa FIB di kampus kami),” katanya sedikit gugup.

“Owalah, BSO apa, Mba?” saya bertanya lagi masih penasaran

“Terjal,“ jawabnya. Terjal adalah nama BSO teater.

Lalu kami saling ngobrol di ruangan itu sambil menunggu dosen. Banyak yang kami bicarakan. Mulai dari berapa dana yang diajukan sampai agenda-agenda yang diadakan Terjal setahun ke depan.

Klik screenshot profil Instagram Terjal untuk mampir ke sana

Waktu itu saya teringat Poddium dan Aksarayana juga sedang mengajukan dana ke Ford Foundation (FF) untuk mendukung creative project yang sedang dibuat. Saya langsung memberi tahu tentang kegiatan FF ini ke Mbak itu, walaupun di hari kami bertemu deadline pengumpulan proposal ke FF sudah lewat. Saya memberi tahu karena saya tahu kalau Terjal juga sama seperti Poddium dan Aksarayana, ingin membuat dan menampilkan karya terbaik.

Saya berpikir kalau informasi baik seperti ini harus disebarkan, bukan malah disimpan-simpan. Entah informasi pendanaan seperti FF ini atau informasi beasiswa. Ya, kebaikan kalau disebarkan toh akan balik lagi, enggak akan berkurang apa yang kita bagi.

Sekarang banyak banget perkumpulan atau komunitas. Ada yang berbasis kemampuan yang sama atau ada juga karena punya visi dan tujuan yang satu. Hal ini biasa, sih, karena memang orang itu disatukan sama ‘mereka-mereka juga’. Sama saja dengan kerja kreatif. Membuat projek dalam kerja kreatif juga membutuhkan visi yang sama. Sulit kalau sudah punya tujuan yang berbeda.

Ketika projek dimulai, semua orang pasti terlibat dengan masing-masing kemampuan yang mereka punya, saling kerja sama, dan saling memberikan kontribusi. Apa jadinya, kan, kalau visi masing-masing dari mereka berbeda? Kalau terlalu berbeda, bisa jadi nanti beda ekspektasi satu sama lain dan berefek lagi menjadi beda kontribusi yang diberi.

Ini juga yang ditekankan di Poddium dan Aksarayana selama ini; kerja sama. Ini juga yang membuat kedua proyek itu bisa berjalan dengan baik; di belakangnya ada orang-orang yang bukan hanya saling berteman, tapi juga saling mendukung, mengapresiasi, dan menolong. Iklim seperti ini yang sudah dan akan terus dipertahankan di Poddium dan Aksarayana.

Terus timbul pertanyaan, bagaimana dengan persaingan? Tentu. Persaingan itu biasa, bukannya kita hidup juga hasil dari persaingan? Masing-masing dari kita juga sedang dalam arena persaingan? Persaingan enggak pernah jadi masalah, karena memang itu sudah menjadi naluri kita. Cuma bagaimana kita megatur dan mengukur persaingan itu. Juga, bagaimana kita bersaing dengan cara yang sehat.

Apalagi dunia kreatif, sebanyak itu konten kreator dan berjuta-juta hasil kreasi mereka. Itu persaingan. Enggak akan ada satu konten merebut pasar konten yang lain, yang ada hanya; konten yang baik, mengalahkan konten yang masih kurang baik—baik secara isi maupun secara teknis. Itu yang diperlukan untuk terus diperbaiki; konten.

Selain kemauan untuk terus belajar, memperbaiki konten juga perlu punya lingkungan yang mendukung. Dalam dunia kreatif banyak orang yang bisa ngebantu kita untuk terus memperbaiki konten. Lingkungan mendukung di sini, lingkungan dengan orang-orang yang bekerja sama dan belajar satu dengan lainnya.

Poddium terbuka untuk itu, tempat saling belajar, atau setidaknya berusaha untuk itu. Tanya saja kami, hadang saja, di mana pun; DM Instagram, mention di Twitter juga bisa. Dengan senang hati akan membantu. Poddium bukan tempat untuk mengharumkan nama satu orang, kami ingin lingkungan yang saling mendukung dan kerja sama. Kami ingin playground—taman bermain dengan teman-teman bermain. Apa asyiknya bermain sendirian, kan? Tapi di satu titik, kami juga ingin saling bersaing ketika kita bermain di taman. Kami ingin punya teman sparing partner yang bisa diajak berlatih sesungguhnya. Selain itu Poddium dan Aksarayana juga menumbuhkan semangat untuk tetap konsisten.

Enggak bisa enggak konsisten untuk menghasilkan konten yang bagus. Enggak mungkin konten kita langsung cemerlang dengan sekali belajar sekali membuat. Kecuali kita mempunyai bakat luar biasa. Tapi bakat pun ternyata perlu diasah secara konsisten agar tetap tajam. Istiqomah diksi familiarnya, deliberate practices dan grit kalau bahasa kerennya. Itu yang mempertajam kemampuan. Enggak ada yang instan. Semua perlu dibangun. Ini juga yang membuat Poddium dan Aksarayana enggak berharap berhasil dalam waktu dekat. Kami ingin menikmati perjalanan, pertemanan, waktu yang dihabiskan untuk menambah kemampuan. Keberhasilan itu masuk di hitungan resiko.

Lingkungan yang bagus juga diisi dengan apresiasi. Apresiasi juga bentuk dari persaingan yang sehat. Di Aksarayana ada apresiasi dengan memberikan kopi dan kukis—digital, sayangnya haha—dan juga review dari Ndoro. Sebaliknya, Poddium beberapa kali mendapat apresiasi dari pendengar. Apresiasi dari pendengar juga penting. Tapi ini bukan tolak ukur mutlak. Karya yang baik itu pasti akan ada penikmatnya—ini perlu diyakini. Ketika memulai Poddium dari awal sampai sekarang, enggak ada kami (Uni Octa dan saya) memikirkan tentang banyaknya pendengar. Diskusi sampai berantem (dan ini sering) itu lebih banyak ke masalah konten dan kualitas.

Konten dan kualitas baik itu yang diapresiasi. Di Poddium, kami melihat apresiasi pendengar dari banyaknya angka unduhan dan streaming langsung. Awalnya, angka ini enggak bisa diakses umum—hanya orang yang punya akses ke website Poddium yang bisa melihat sampai ke detail statistiknya. Tapi sekarang, ringkasannya bisa dilihat siapa pun di sini.

Untuk semua apresiasi, saya Gian mengucapkan terima kasih. Kami mengucapkan terima kasih.

Saya tempel screenshot statistik download Poddium per episod, angka ini belum termasuk streaming langsung

Saya menulis ini untuk mengingatkan, diri saya terutama, bahwa statistik memang perlu tapi untuk orang yang memulai dari enggak tahu apa-apa seperti saya, expertise itu lebih penting. Kemampuanmu mengerjakan sampai hasilnya baik itu jauh lebih penting. Saya sudah merasakakannya dari perjalanan Poddium hampir setahun belakangan. Walaupun beberapa waktu sejak Januari Poddium nyaris bisa dibilang hiatus, tapi saya dan teman-teman bekerja di belakang layar untuk membuat Aksarayana. Membawa satu hal lagi yang penting dalam mengawinkan medium sepert yang sedang kami usahakan; storytelling.

Sekali lagi saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman perjalanan membuat projek dari awal. Semoga pengalaman ini terus berjalan sehingga pengalaman-pengalaman baru terus datang. Saya juga ingin teman-teman merasakan asyiknya belajar dan membuat konten, juga enaknya jalan bareng dalam membuat projek. Poddium dan Aksarayana terbuka untuk ditanya dan diajak bekerja sama.

I’m kind of over gettin’ told to throw my hands up in the air
So there
I’m kind of older than I was when I reveled without a care
So there

Lorde